BENPARK - Keberadaan ikan invasif telah lama menjadi perhatian dalam sektor perairan dan perikanan di Indonesia. Spesies-spesies ini dinilai membawa dampak negatif karena dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan serta mengancam keberlangsungan organisme asli.
Upaya pengendalian ikan invasif tidak dapat dilakukan tanpa mengetahui terlebih dahulu spesies mana yang termasuk ke dalam kategori tersebut. Sayangnya, masih banyak anggapan bahwa ikan invasif identik dengan ikan predator berukuran besar, seperti Alligator Gar. Padahal, tidak semua ikan invasif memiliki karakteristik tersebut.
Lantas, spesies ikan apa yang sebenarnya paling invasif di Indonesia? Jika penasaran, simak pembahasannya berikut ini.
Rame ikan Sapu-sapu
Pada 2018, ikan sapu-sapu menjadi sorotan di kalangan perikanan karena penyebarannya yang semakin luas dan sifatnya yang invasif. Kehadirannya menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Sejumlah penelitian melaporkan bahwa populasi ikan sapu-sapu telah banyak ditemukan di Sungai Ciliwung. Selain itu, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) juga menyatakan bahwa spesies ini dapat memberikan dampak buruk terhadap sungai maupun perairan umum di Indonesia.
Menurut BKIPM, ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai spesies invasif karena bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari kawasan Amerika Selatan, termasuk Ekuador dan Peru. Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan membuat populasinya berkembang sangat pesat di berbagai wilayah Indonesia. Bagaimana dengan perairan di sekitar tempat tinggalmu? Apakah ikan sapu-sapu juga sudah mulai ditemukan di sana?
Lebih dalam tentang ikan Sapu-sapu
Ikan sapu-sapu yang memiliki nama ilmiah Glyptoperichthys gibbiceps dikenal dengan ciri tubuh berwarna cokelat kehitaman hingga kekuningan serta memiliki sirip punggung yang lebar dan menjulang, sehingga mudah dikenali dibandingkan jenis ikan air tawar lainnya.
Spesies ini mampu tumbuh hingga mencapai panjang sekitar 50 sentimeter. Selain ukurannya yang cukup besar, ikan sapu-sapu juga memiliki usia hidup yang relatif panjang, bahkan dapat bertahan lebih dari 20 tahun apabila berada dalam kondisi lingkungan yang mendukung.
Sebagai anggota famili Loricariidae, ikan ini juga dikenal dengan beberapa nama ilmiah lain (sinonim), yaitu Ancistrus gibbiceps dan Pterygoplichthys gibbiceps.
Dampak dari ikan Sapu-sapu
Ikan sapu-sapu digolongkan sebagai spesies invasif karena keberadaannya dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap ekosistem perairan. Spesies ini mampu mengubah kondisi habitat, mengganggu keseimbangan rantai makanan, bersaing dengan ikan-ikan asli dalam memperoleh sumber makanan maupun ruang hidup, memengaruhi komposisi tumbuhan air, hingga menyebabkan kerusakan pada alat tangkap milik nelayan.
Apabila populasinya tidak dikendalikan, ikan sapu-sapu dapat berkembang biak dengan sangat cepat di sungai, danau, maupun perairan tawar lainnya. Dominasi spesies ini membuat ikan-ikan lokal berukuran kecil semakin terdesak akibat persaingan sumber daya, sehingga keseimbangan ekosistem terganggu dan pada akhirnya ikan sapu-sapu menjadi spesies yang mendominasi perairan tersebut.
Kesimpulan
Memelihara ikan invasif pada dasarnya merupakan pilihan masing-masing penghobi. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu jangan pernah melepaskan spesies tersebut ke sungai, danau, waduk, atau perairan umum lainnya. Tindakan tersebut dapat memicu penyebaran populasi ikan invasif dan menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem perairan di Indonesia.
Bayangkan jika spesies ikan asli Indonesia terus terdesak hingga populasinya menurun atau bahkan menghilang akibat keberadaan ikan invasif. Tentu kita akan kehilangan kekayaan hayati yang menjadi bagian penting dari keanekaragaman perairan Indonesia. Karena itu, sebagai penghobi maupun masyarakat, sudah sepatutnya kita ikut menjaga kelestarian ekosistem dengan tidak melepas ikan peliharaan ke alam liar.

